Anti Arab? Dengarlah.

Ada baiknya kita melihat tidak satu pandang. Bukan hanya melihat satu titik saja. Ternyata banyak titik-titik yang harus ditelusuri. Setidaknya melihat satu titik yang lain.

Membaca adalah mengisi sebagian nutrisi di dalam pikiran. Namun, terkadang nutrisi membawa beban yang menusuk ke dalam hati. Begitulah, kadang membaca membuat diri luruh dengan perasaan sendiri.

Membaca buku tentang kehidupan bangsa Arab, yang tak banyak dibahas di media publik. Tidak banyak yang melirik. Atau berusaha menyingkap dan membela yang tak pernah ditilik. Mereka semua saudara-saudara yang terkukung oleh jeruji simbol-simbol.

Anti Arab?

Apakah kita akan marah dengan orang-orang yang menggaungkan kalimat ini? Apakah juga sama akan menghujat mereka? Islam lahir di sana loh? Al Qur’an kita bahasa Arab, Nabi kita orang arab? Kenapa benci dan anti Arab? Pasti sekelumit itu tudingan-tudingan kita.

“Ma, nyesel posting buku tadi. Malu ma. Itu terjadi di Arab.”

Pesanku pada teman yang jauh di sana. Saat aku memposting buku Nawal el Sa’dawi, Perempuan di Titik Nol.

Sepanjang ke sini, baru sadar, nikmat ber Islam itu ya indah di Indonesia. Untung saja tidak lahir di Arab. Kecuali di tempat-tempat tertentu, yang emang jauh dari Abu Jahal, jauh dari Bar-barnya, jauh dari adat tradisi yang tak juga punah meski di datangi para Nabi.

Terpesona dengan kerajaan Arab? Pesona sungai Nil di Kairo? Ternyata, putih tak selamanya bersih. Hitam, lihatlah titik ini. Mulai cerita Princess Arab, atau para putrinya yang tak boleh keluar istana dan harus tinggal di Harem, para selir-selir Raja? Dan putra mahkota yang berjubah itu pelesir membeli perempuan? Simbol kerapkali dijadikan tanda kesholehahan seseorang. Mereka pergi ke Masjid dengan jubah-jubahnya, berkhotbah menjadi pemuka agama? Kata mereka, suami boleh memukul istrinya ketika bersalah. Istri yang baik adalah di rumah dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Dan ditambah lagi, setiap pekerjaan yang dilakukkan akan bernilai ibadah. Memang begitulah perempuan.

Dua buku, satu liburan lalu, histeris sendiri baca. Satunya lagi saat ini, malam ini.
Dan buku Farag Fauda, kebenaran yang hilang.

Kerap kali sejarah dibumbui kebohongan. Terlena dengan sesuatu yang katanya sudah “mapan”. Dan menolak keras, ketika sejumlah orang hadir mendobrak sejarah itu.

Pilu.
Dan malam ini memang baper.

Advertisements